Ini bukan kisah,
juga bukan cerita apalagi mendongeng,,,
Ini hanyalah sebuah
kesan, tentang hal- hal yang terlihat namun samar terdengar
El itu arus, Halimah
itu danau, dan Weni itu es
Hap- hap itu tanah,
Nawan itu air, Ibel itu api, dan Komting itu angin,,,
sedangkan saya, saya
hanyalah aku yang kebetulan lewat dan berpapasan kalau tak ingin di sebut
bertabrakan dan bersinggungan hingga akhirnya menjadi magnet yang menarik serta
mengumpulkan mereka dalam satu, satu kesatuan tanpa nama namun penuh arti
Tolong jangan bilang
kami ini genk, apalagi menyebut kami kelompok dalam kelompok, sekalian
aja katakan kami bangun tenda dalam rumah yar lebih heboh kedengarannya, hanya
karena anda tak cukup mampu memahami kebutuhan kami satu terhadap yang lain...
Maka dengan ini
untuk menghilangkan kesalahKaprahan, dan sedikit mengungkap tabir misteri yang
jelas bukan misteri, ijin kan saya untuk menguak sebanyak mungkin kesan
yang mampu saya jabarkan. Sedianya anda membuka mata dan telinga untuk tidak
terus- menerus berpraduga menyalahkan karna kami hanya lah manusia biasa yang
nyaman dengan diri sendiri dan dunia kami sendiri yang tak tersentuh.
Hap- hap, Nawan,
Ibel, Komting, El, Halimah dan Weni adalah 7 anak ayam, anak ayam yang dengan
sadar menyadari bahwa mereka Cuma anak ayam. Mereka adalah pribadi dengan
galaunya masing- masing, gayanya masing- masing dan gokilnya masing- masing.
Pribadi yang punya kekurangan (kurang ajar)dan kelebihan( lebih kurang ajar)
yang saling melengkapi dan bukan menutupi.
Bagi anda yang tidak
mengerti mungkin kesan ini terdengar membosankan, tapi bagi saya bersama mereka
setiap hari sama sekali tidak membuat bosan. Mereka mengingatkan saya tentang
siapa saya sebelum saya bertemu dengan aku. Mereka membagi kisah sepenggal beban
mereka, dan memberi saya kesempatan untuk menjadi pendengar yang baik. Mereka
dengan sedikit terpaksa dan sangat antusias memberi saya kesempatan untuk di
dengar. Bersama mereka saya punya kesempatan untuk diam dan melihat, mengamati
bagaimana mereka berjuang dan memperhatikan bagaimana mereka bertahan. Saya
melihat keping- keping aku di dalam kepribadian mereka yang tidak rumit tapi
tidak sederhana.
Cobalah untuk
mengerti, kalau memang pribadiku sulit dipahami, maka harap sedikit diresapi,
bahwa kami hanya berteman, teman dalam pengertian yang tidak berbeda dengan
definisi anda tentang teman. Kami hanya mencari kenyamanan, nyaman dan aman
duduk bersama dalam diam tapi sarat pengertian. Bukan ingin bersembunyi dari
mata dunia, dan mencoba menggebrak meja, demi secuil sensasi. Kami hanya ingin
sejenak menghela nafas tenang, saat sekejap dalam kosongnya waktu meninggalkan
beban yang sangat menyengsarakan yang tak berani diungkapkan di mata yang tak
melihat. Kenapa? Karna beban kami bukan tontonan, apalagi dijadikan bahan
gosipan. Memiliki beban ini sudah cukup sakit, jadi tolong jangan tambah lagi
hanya karna anda tidak mengerti lalu main hakim sendiri.
Saya hanyalah saya
yang mungkin tak masuk akal anda, dan silahkan salahkan saya, jika itu mampu
menenangkan pikiran anda. Tapi jangan hukum anak ayam saya.
Karena mereka adalah
bagian diri saya.
Mereka telah
bercipta dan di bentuk alam menjadi siapa mereka yang telah anda lihat. Saya
tidak mencoba mengutak- atik karya TUHAN, saya hanya menemukan dan menyatukan
mereka karna mereka saling membutuhkan, tanpa saya pun mereka akan tetap
menjadi pribadi yang unik dan istimewa. Saya hanya butuh teman dan mereka
bersedia menjadi teman saya.
Saya hanya manusia
yang tak istimewa hingga harus menunggu sekian lama untuk menemukan teman yang
mampu menerima saya sebagai teman tanpa terus- menerus mengatakan “kw harus
begini, kw ga boleh begitu, kw seharusnya begini sekaligus begitu”. Maaf,,,
kalau sikap saya sangat mengganggu dan meresahkan. Tapi ini lah saya yang tak
mampu anda terima apa adanya.
Biar kami berkembang
, kami ngerti kq...