Rabu, 30 Oktober 2013

Chiken child

Ini bukan kisah, juga bukan cerita apalagi mendongeng,,,
Ini hanyalah sebuah kesan, tentang hal- hal yang terlihat namun samar terdengar

El itu arus, Halimah itu danau, dan Weni itu es
Hap- hap itu tanah, Nawan itu air, Ibel itu api, dan Komting itu angin,,,
sedangkan saya, saya hanyalah aku yang kebetulan lewat dan berpapasan kalau tak ingin di sebut bertabrakan dan bersinggungan hingga akhirnya menjadi magnet yang menarik serta mengumpulkan mereka dalam satu, satu kesatuan tanpa nama namun penuh arti
Tolong jangan bilang kami ini genk, apalagi menyebut kami  kelompok dalam kelompok, sekalian aja katakan kami bangun tenda dalam rumah yar lebih heboh kedengarannya, hanya karena anda tak cukup mampu memahami kebutuhan kami satu terhadap yang lain...
Maka dengan ini untuk menghilangkan kesalahKaprahan, dan sedikit mengungkap tabir misteri yang jelas bukan misteri, ijin kan saya untuk  menguak sebanyak mungkin kesan yang mampu saya jabarkan. Sedianya anda membuka mata dan telinga untuk tidak terus- menerus berpraduga menyalahkan karna kami hanya lah manusia biasa yang nyaman dengan diri sendiri dan dunia kami sendiri yang tak tersentuh.
Hap- hap, Nawan, Ibel, Komting, El, Halimah dan Weni adalah 7 anak ayam, anak ayam yang dengan sadar menyadari bahwa mereka Cuma anak ayam. Mereka adalah pribadi dengan galaunya masing- masing, gayanya masing- masing dan gokilnya masing- masing. Pribadi yang punya kekurangan (kurang ajar)dan kelebihan( lebih kurang ajar) yang saling melengkapi dan bukan menutupi.
Bagi anda yang tidak mengerti mungkin kesan ini terdengar membosankan, tapi bagi saya bersama mereka setiap hari sama sekali tidak membuat bosan. Mereka mengingatkan saya tentang siapa saya sebelum saya bertemu dengan aku. Mereka membagi kisah sepenggal beban mereka, dan memberi saya kesempatan untuk menjadi pendengar yang baik. Mereka dengan sedikit terpaksa dan sangat antusias memberi saya kesempatan untuk di dengar. Bersama mereka saya punya kesempatan untuk diam dan melihat, mengamati bagaimana mereka berjuang dan memperhatikan bagaimana mereka bertahan. Saya melihat keping- keping aku di dalam kepribadian mereka yang tidak rumit tapi tidak sederhana.
Cobalah untuk mengerti, kalau memang pribadiku sulit dipahami, maka harap sedikit diresapi, bahwa kami hanya berteman, teman dalam pengertian yang tidak berbeda dengan definisi anda tentang teman. Kami hanya mencari kenyamanan, nyaman dan aman duduk bersama dalam diam tapi sarat pengertian. Bukan ingin bersembunyi dari mata dunia, dan mencoba menggebrak meja, demi secuil sensasi. Kami hanya ingin sejenak menghela nafas tenang, saat sekejap dalam kosongnya waktu meninggalkan beban yang sangat menyengsarakan yang tak berani diungkapkan di mata yang tak melihat. Kenapa? Karna beban kami bukan tontonan, apalagi dijadikan bahan gosipan. Memiliki beban ini sudah cukup sakit, jadi tolong jangan tambah lagi hanya karna anda tidak mengerti lalu main hakim sendiri.
Saya hanyalah saya yang mungkin tak masuk akal anda, dan silahkan salahkan saya, jika itu mampu menenangkan pikiran anda. Tapi jangan hukum anak ayam saya.
Karena mereka adalah bagian diri saya.
Mereka telah bercipta dan di bentuk alam menjadi siapa mereka yang telah anda lihat. Saya tidak mencoba mengutak- atik karya TUHAN, saya hanya menemukan dan menyatukan mereka karna mereka saling membutuhkan, tanpa saya pun mereka akan tetap menjadi pribadi yang unik dan istimewa. Saya hanya butuh teman dan mereka bersedia menjadi teman saya.
Saya hanya manusia yang tak istimewa hingga harus menunggu sekian lama untuk menemukan teman yang mampu menerima saya sebagai teman tanpa terus- menerus mengatakan “kw harus begini, kw ga boleh begitu, kw seharusnya begini sekaligus begitu”. Maaf,,, kalau sikap saya sangat mengganggu dan meresahkan. Tapi ini lah saya yang tak mampu anda terima apa adanya.
Biar kami berkembang , kami ngerti kq...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar